Lun Do' Ngimet Bawang: Pemimpin Baheula yang Peduli dan Istimewa Bagi Suku Dayak Lundayeh, Sub Lengilo’

KRAYAN NEWS--Dalam masyarakat lokal manusia Lengilo', terdapat seorang figur penting yang disebut Lun Do'. Ia adalah seorang pemimpin yang dihormati dan memiliki karakteristik yang patut dicontoh. Tulisan ini mencoba mengulas beberapa contoh perilaku dan tindakan Lun Do' Ngimet Bawang yang mencerminkan kepemimpinan yang baik dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Adapun tiga Karakteristik utama Lun Do' sebagai berikut:

Pertama, Peduli Terhadap Kebutuhan Masyarakat

Ketika mengadakan irau atau pesta, Lun Do' memastikan bahwa setiap orang yang hadir mendapatkan makanan. Ia bahkan memprioritaskan orang lain untuk makan lebih dahulu sebelum dirinya. Saat berburu, ia membawa nasi lebih banyak sesuai dengan jumlah anggota rombongan, menunjukkan perhatiannya terhadap kebutuhan mereka.

Baca Juga Artikel Lainnya: Masyarakat Adat Di Wilayah Adat Krayan, Dataran Tinggi Borneo

Kedua, Kepemimpinan dalam Tindakan

Lun Do' tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani bertindak. Ia terampil dalam pekerjaan di medan perang (baca: mengayau) dan mampu mengadakan pesta besar setelah perang.

Ketiga, Berkontribusi pada Kesejahteraan Masyarakat

Pesta besar yang diadakan oleh Lun Do' bukan hanya hiburan semata, tetapi juga sebagai cara memberi makan kepada masyarakat yang lebih banyak. Ini mencerminkan sikap kepeduliannya terhadap kesejahteraan orang lain.

Selain karakteristik Lun Do' di atas, berikut ini contoh pekerjaan dan pesta yang dilakukan Lun Do', sebagaimana di sampaikan ungkapkan Frans Rining sebagai berikut :

  • Nu-i Ulung Kayuh, yaitu Nu-i Ulung Kayuh adalah mendirikan kayu yang dihiasi dengan rautan (kelulung) yang indah. Disitu mereka mengadakan pesta besar dan tari-tarian sambil menyanyikan nyanyian: Ukui, yang artinya: Se' Deri', Se' Tadi' atau: "syukurin, rasain, kapok".

Baca Juga Artikel Lainnya: Memaknai Kepemimpinan Dan Lun Do’ Bagi Dayak Lundayeh, Sub Lengilo’

  • Nu-i Ulung Buayeh, sebuah pekerjaan besar ‘membangun patung buaya di atas tanah’. Buaya adalah lambang kebesaran dan kekuatan nenek moyang baheula. Patung buaya dapat dibuat diatas tanah datar, di bukit, atau di gunung (Apad). Selama kegiatan berlangsung konsumsi akan ditanggungnya. Masyarakat boleh makan sepuas-puasnya sampai pekerjaan selesai. Pada acara akhir, akan  dilakukan pesta besar sebagai pertanda bahwa semua pekerjaan sudah selesai. Katakanlah Syukuran Penutupan.

  • Mudut Tapa, yaitu menggali gunung dengan lebar kurang lebih dua sampai tiga meter, dengan posisi melintang atau memotong gunung. Kedalaman galian sekitar dua meter lebih atau bisa mencapai empat meter. Kalau dilihat dari bawah maka gunung tersebut tampak ompong. Pekerjaan ini dilakukan berminggu-minggu sampai pekerjaan dinyatakan selesai. Pekerjaan ini, membutuh tenaga orang banyak dengan biaya yang juga sangat besar. Setelah pekerjaan selesai Lun Do’ mengadakan pesta besar sebagai rasa syukur.


Baca Juga Artikel Lainnya: Krayan : Pesona Alam Dan Kemuliaan Manusia Lun Dayeh

  • Nu-i Batuh, yaitu pembangunan batu besar yang memerlukan kerja sama banyak orang, diprakarsai oleh Lun Do' untuk kepentingan masyarakat. Pekerjaan bersama membangun batuh atau Nu-i Batuh berukuran panjang. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga orang banyak dan memakan biaya besar, karena itu kegiatan ini di inisiatifkan oleh Lun Do’. Contoh, Batu Tudun Desa Long Mutan.

Batu Tudun Desa Long Mutan

Untuk itulah, mengapa Lun Do' ngimet bawang adalah sosok pemimpin yang patut diacungi jempol dalam manusia Lengilo’. Ia tidak hanya memiliki karakteristik kepemimpinan yang kuat, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Pesta-pesta yang diadakannya bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk kontribusinya dalam memberi makan kepada orang banyak. 

" Lun Do' adalah teladan yang memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya dengan tindakan nyata."

Berkaitan dengan hal tersebut, pelestarian budaya Suku Dayak Lundayeh, sub Lengilo' adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan masyarakat setempat, pemerintah, dan pihak eksternal. Hanya dengan upaya bersama, kita dapat menjaga agar budaya ini tetap hidup, relevan, dan bermanfaat bagi generasi mendatang. Selain itu, keberagaman budaya adalah aset berharga Indonesia yang harus dijaga dan dihargai. Dengan menjaga budaya tradisional, kita juga memperkaya identitas bangsa ini. (Lio Bijumes)

***

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url